Selain karena horoscope saya gemini, saya gak tau lagi alesannya, Mbak.
“Jadi manusia jangan sombong”, sebuah kutipan dialog dari novel yang pernah kubaca. “kita hanya terpisah sekian persen DNAnya dari makhluk-makhluk lain”.
Survival. Pertahanan hidup manusia. Manusia yang bertahan hidup. Manusia yang berhasil selamat. Di hutan belantara. Manusia, berhasil. Manusia. Kesombongan yang telak. Tak sekalipun pernah kudengar ada ungkapan ‘hutan belantara berhasil menyelamatkan anak manusia’. Pernyataan yang aneh?
Begini, saya coba jelaskan. Anggap hutan adalah sebuah kerajaan rimba dengan sistem yang serba harmonis. Pepohonannya, variasi tinggi rendah, hijau coklat-kemerahan, rindang ranggas. Airnya, wajah jernih tanpa dusta, gemericik menentramkan, mengalir bijaksana. Ratusan juta serangga dan hewan kecil yang mampu berjalan tanpa takut walau gelap.
Lalu datang jejak kaki manusia. Yang serakah mengira pepohonan, aliran air, dan serangga-serangga adalah milik mereka. Ditebang, dicemar, dibunuh. Memorak-porandakan sistem. Tak pernahkah terlintas bahwa mereka bergantung pada akar, saat hampir terjatuh? Berlindung pada dahan-dahan yang kuat berdaun rindang, saat dipermainkan cuaca? Terbebas dari dahaga, saat kering menggerogoti tenggorokan? Ditunjukkan jalan oleh para hewan, agar bisa kembali pulang?

Jadi sebenarnya, siapa yang menyelamatkan siapa?
Di pantai jiwa yang mengukir namamu, aku menunggu. Menunggu kapan kiranya desir ombak bahagia menjilati pantaiku dan menghapus namamu dari sana. Karena sedetik ombak itu menggilas habis dirimu dari sana, aku akan melupakanmu.
